Profile
Menopause

Mitos & Fakta Menopause di Indonesia

Mitos & Fakta Menopause di Indonesia

Menopause adalah titik waktu setelah satu tahun berhenti haid. Banyak mitos soal menopause, bagaimana faktanya

Terminologi menopause adalah titik waktu setelah satu tahun berhenti haid. Pascamenopause menjelaskan masa setelah titik ini. Usia rerata menopause wanita Indonesia adalah 48,9 tahun (data PB-PERMI 2001-2004). Banyak perubahan yang timbul saat menopause. Secara fisiologis, saat menopause akan tejadi perubahan sel telur, dinding rahim, pusat pengaturan suhu tubuh, metabolisme dan struktur tulang, jantung dan pembuluh darah, berat badan dan distribusi lemak, kulit, gigi, dan payudara, sistem saraf pusat, psikologi, libido, dan saluran reproduksi bawah. Gejala-gejala terkait transisi menopause muncul akibat adanya perubahan fisiologis ini.

Banyak mitos yang beredar di masyarakat mengenai menopause. Bagaimana faktanya? Berikut 7 mitos yang dipercaya masyarakan Indonesia:

1. Usia Menopause
Mitos: Usia wanita menopause di usia 50 tahun-an. 
Fakta: Terminologi menopause mengacu pada satu titik waktu setelah 1 tahun berhenti haid. Pascamenopause menjelasan tahun-tahun setelah titik ini. Kegagalan ovarium prematur (premature ovarian failure) mengacu pada berhentinya haid sebelum usia 40 tahun dan terkait dengan peningkatan kadar FSH (Follicle-Stimulating Hormone). Usia rerata menopause wanita Indonesia adalah 48,9 tahun (data PB-PERMI 2001-2004). Sumber lain menyebutkan usia 51,38 tahun (Klinik Yasmin, 2010-2012). Terminologi lama perimenopause atau klimakterik mengacu pada tahun reproduksi akhir, biasanya akhir 40an sampai awal 50an. Terminologi yang lebih tepat untuk periode waktu ini adalah transisi menopause.2
 
 
2. Depresi saat menopause
Mitos : Wanita menopause akan merasa tertekan atau stress. 
Fakta: Gejala psikologis dan kognitif dapat muncul saat transisi menopause dan termasuk depresi, perubahan mood, kurang konsentrasi, dan gangguan ingatan. Walaupun banyak wanita merasa perubahan-perubahan ini terkait dengan perburukan terkait usia, gejala-gejala ini faktanya berasal dari perubahan hormon reprodusi. Bagi sebagian wanita, masa mendekati menopause dipersepsikan sebagai waktu hilangnya peran sebagai wanita, saat inilah muncul rasa depresi dan gangguan psikologis lain.
 
Banyak temuan terkini yang membantah mitos bahwa menopause alami terkait dengan mood depresi.Dikatakan secara umum terdapat persentase tinggi subyek dengan depresi berulang saat menopause, dan persentase tinggi mengalami depresi pertama kali saat transisi menopause. Ditemukan bahwa fluktuasi hormonal selama transisi menopause awal bertanggung jawab, sebagian, pada kecenderungan ketidakstabilan ini. Serupa dengan teori ini, menopause karena pembedahan juga menyebabkan perubahan mood karena hilangnya hormon secara mendadak. Hipotesis teori ini adalah komponen utama emosi stress saat transisi menopause mungkin disebabkan oleh kadar estradiol yang tinggi.
 
3. Hilangnya Hasrat Seksual
Mitos: Hasrat seksual menurun atau hilang 
Fakta: Walaupun hubungan antara hormon yang bersirkulasi dan hasrat seksual banyak diteliti, data definitifnya hanya sedikit. Banyak penelitian membuktikan bahwa faktor-faktor lain selain menopause berkontribusi pada perubahan hasrat seksual. Penelitian mengenai fungsi seksual pada 200 wanita yang mengalami menopause. Tidak ada yang dapat terapi hormon dan semua punya pasangan seksual. Status menopause diamati terkait bermakna dengan penurunan minat seksual.
 
Bagaimanapun, setelah penyesuaian kesehatan fisik dan mental, merokok, dan kepuasan pernikahan, status menopause tidak lagi berhubungan bermakna dengan hasrat seksual.9 Menopause berhubungan bermakna dengan nyeri saat berhubungan seksual dan tidak langsung dengan respon seksual. Faktor psikologis pasangan, stress, dan faktor sosial lain juga secara tidak langsung mempengaruhi fungsi seksual.2
 
4. Gejala Hawa Panas
Mitos: Wanita menopause mengalami gejala hawa panas
Fakta: Dari banyak gejala menopause yang mempengaruhi kualitas hidup, yang paling sering adalah gejala yang terkait pengaturan suhu tubuh. Gejala-gejala vasomotor ini dijabarkan sebagai hawa panas (hot flashes). Gejala vasomotor timbul pada 11-60 persen wanita transisi menopause. Insidens ini meningkat dari 10 persen saat pramenopause menjadi sekitar 50% setelah berhenti menstruasi.
 
Pengaturan suhu tubuh dan perubahan jantung dan pembuluh darah saat serangan hawa panas telah terdokumentasi baik. Lamanya serangan hawa panas 1-5 menit, dan suhu kulit meningkat karena pelebaran pembuluh darah tepi.
 
5. Penambahan Berat Badan
Mitos: Tubuh menjadi gemuk 
Fakta: Penambahan berat badan merupakan keluhan umum pada wanita yang memasuki transisi menopause. Dengan bertambah usia, laju metabolisme wanita melambat, mengurangi kebutuhan kalorinya. Jika pola makan dan aktifitas fisik tidak dirubah, berat badan akan bertambah. Dilaporkan bahwa wanita yang melakukan aktifitas lebih, penambahan berat badannya kurang dari wanita tidak aktif. Penambahan berat badan pada menopause bukan efek perubahan hormon, tapi menggambarkan pola diet, aktifitas fisik, dan pengurangan laju metabolik.2
 
6. Perubahan Hormon
Mitos: Tidak lagi memproduksi hormon 
Fakta: Pada periode reproduksi, GnRH (Gonadotropin-releasing hormone) dilepas di hipotalamus dan menstimulasi pelepasan LH (Luteinizing Hormone) dan FSH. Kedua gonadotropin ini menstimulasi produksi estrogen, progesteron dan inhibin di ovarium. Pada transisi menopause awal, kadar FSH sedikit meningkat dan berdampak pada peningkatan respon folikular ovarium, mengakibatkan meningkatnya kadar estrogen. Pada masa transisi menopause akhir, wanita mengalami kerusakan folikulogenesis dan meningkatnya insidens anovulasi. Perubahan ini termasuk meningkatnya kadar FSH menggambarkan penurunan kualitas dan kemampuan folikel mensekresi inhibin.4,5
 
7. Terapi Hormon
Mitos: Bisa terapi hormon
Fakta: Pada masa lalu, terapi sulih hormon sangat marak diresepkan pada wanita menopause untuk banyak keuntungan kesehatan. Belakangan hal tersebut terbukti tidak sepenuhnya benar. Ada risiko dan keuntungan terapi hormon. Kebanyakan dokter setuju bahwa terapi hormon terkait dengan peningkatan risiko penyakit jantung koroner, sumbatan pembuluh darah vena, dan radang kandung empedu. Kanker payudara muncul sebagai faktor risiko untuk penggunaan jangka panjang (>5 tahun).
 
Berdasarkan literatur terkini, terapi hormon diindikasikan hanya untuk terapi gejala vasomotor dan vagina kering dan untuk pencegahan atau terapi osteoporosis. Terapi hormon harus diberikan pada dosis efektif terendah untuk waktu tersingkat. (ACOG, 2008). Pasien akan diingatkan bahwa risiko meningkat dengan peningkatan usia dan durasi penggunaan.
 
Jadi, menopause bukan suatu tanda penurunan kualitas hidup, tetapi saatnya untuk memulai sesuai yang positif, yaitu pola hidup sehat yang bertujuan meningkatkan kualitas dan kuantitas hidup wanita pascamenopause.
 
Anda punya pertanyaan seputar Menopause ?
Ask Doctor
Diet sering dipilih untuk menurunkan berat badan, namun banyak juga yang masih membahayakan diri demi tubuh ideal. Ini cara diet sehat yang benar. Inilah Cara Diet Sehat Leukemia adalah penyakit yang menyerang sel darah dan sumsum tulang belakang. Saat ini belum diketahiui penyebabnya, namun kamu bisa tau gejalanya Gejala Leukemia yang Tidak Boleh Diabaikan