Profile
Kesehatan Mata dan Pengelihatan

Menjaga Mata Tetap Sehat dan Terhindar dari Kebutaan

Menjaga Mata Tetap Sehat dan Terhindar dari Kebutaan

Hari penglihatan sedunia diperingati setiap kamis minggu kedua bulan oktober

Mata adalah salah satu indera yang harus senantiasa dijaga kesehatannya. Pentingnya kesehatan mata, menjadikan setiap tahun pada hari Kamis minggu kedua Bulan Oktober diperingati sebagai Hari Pengelihatan Sedunia (World Sight Day). 

Peringatan Hari Pengelihatan Sedunia dimulai sejak tahun 1998 oleh  Lions Club International yang kemudian diintegrasi menjadi VISION 2020 di bawah koordinasi World Health Organization (WHO) dan  International Agency for the Prevention of Blindness (IAPB). Peringatan Hari Pengelihatan Sedunia bertujuan untuk meningkatkan kepedulian terhadap kebutaan dan gangguan penglihatan sebagai masalah kesehatan masyarakat global.

Tahun ini peringatan Hari Pengelihatan Sedunia jatuh pada tanggal 12 Oktober 2017. Pada peringatan tahun ini, IAPB mengambil tema “ Make Vision Count” dan tema nasional “Mata Sehat, Investasi Bangsa” untuk menyebarluaskan informasi kepada seluruh masyarkat di dunia agar memberikan perhatian dan mendukung penanggulangan masalah gangguan pengelihatan dan kebutaan demi terwujudnya Visi 2020, yakni hak setiap orang untuk dapat melihat.

Menurut data WHO tahun 2012 menunjukkan bahwa 4,25 persen (285 juta jiwa) dari seluruh penduduk dunia mengalami gangguan pengelihatan dengan rincian 14 persen (39 juta jiwa) mengalami kebutaan, dan 86 persen (246 juta) mengalami low vision dan Indonesia menempati urutan ketiga dalam daftar negara dengan tingkat kebutaan tertinggi di dunia, mencapai 1,5 persen lebih tinggi dibandingkan negara-negara lain di Asia Tenggara.  

Di Indonesia, terdapat sekitar 3,5 juta orang mengalami kebutaan pada kedua belah mata dimana 50- 60 persennya atau sekitar 1,5 juta mengalami kebutaan akibat katarak. Penyebab lainnya adalah glukoma dan kelainan refraksi (minus,plus,silinder,dll)

Kebanyakan dari mereka yang mengalami katarak di Indonesia berusia minimal 45 tahun, sementara di luar negeri pada usia 60 tahun. Hal ini dikarenakan negara Indonesia, yang notabene negara tropis, mendapatkan pancaran sinar ultraviolet (UV) lebih banyak sehingga memengaruhi daya tangkap mata.

Selain itu, terkait global warming, lapisan ozon bumi pun menjadi tipis dan semakin memudahkan masuknya sinar UV secara langsung ke manusia. Adanya tren demografi saat ini yang menunjukkan adanya peningkatan 2 kali lipat jumlah penduduk berusia lanjut, karena meningkatnya angka harapan hidup dari 68 tahun menjadi 78 tahun, turut memberi pengaruh pada kesehatan mata katarak yang diperkirakan jumlahnya juga akan meningkat. 

Penyakit-penyakit pada mata tidak hanya disebabkan oleh kurangnya kita menjaga kesehatan mata, melainkan dapat juga disebabkan oleh faktor keturunan misalnya glaukoma. Oleh sebab itu, penting untuk diketahui sejarah penyakit mata dalam keluarga, sehingga dapat kita cegah. 

Pada anak-anak penggunaan kacamata juga perlu menjadi perhatian, karena data WHO menyebutkan bahwa tahun 2006, 13 juta dari 153 penderita refraksi adalah anak-anak berusia 5-15 tahun dan sebagai orangtua sebaiknya memperhatikan kebutuhan anak dimana nilai yang jelek bukan berarti anak tidak pintar, tapi bisa saja karena ada gangguan penglihatan. 
Gangguan penglihatan atau gangguan kesehatan mata sekecil apa pun sebaiknya jangan diabaikan, segera periksakan mata apabila dirasakan ada gangguan penglihatan atau gangguan kesehatan mata ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat. (dr. Christine Yuliana, SpM-Royal Family Eye Centre, RS. Royal Progres)

Anda punya pertanyaan seputar Kesehatan Mata dan Pengelihatan ?
Ask Doctor
Pengobatan ISPA dengan gejala ringan bisa dilakukan sendiri di rumah. Perawatan yang Tepat untuk ISPA osteoporosis rentan terjadi pada perempuan yang kekurangan kalsium Osteoporosis dan Kesehatan Tulang