Profile
Hamil

Ini Alasan Penting Menjaga Jarak Kehamilan

 Ini Alasan Penting Menjaga Jarak Kehamilan

jarak kehamilan adalah “birth to pregnancy interval“ atau jarak antara persalinan dengan kehamilan berikutnya

Setelah memiliki anak pertama, tak sedikit para ibu yang berniat untuk memiliki anak lagi. Alasannya bisa macam-macam, ada yang ingin memberikan adik untuk anak pertama, usia ibu yang dianggap sudah tidak muda lagi, atau lainnya. 

Bagi Anda yang punya rencana untuk memiliki anak lagi, ada satu hal penting yang sebaiknya Anda pertimbangkan terlebih dulu, yaitu Jarak kehamilan.  

Apa sih jarak kehamilan? Menurut WHO, jarak kehamilan adalah “birth to pregnancy interval“ atau jarak antara persalinan dengan kehamilan berikutnya. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa jarak kehamilan yang terlalu dekat maupun terlalu jauh, memiliki risiko, baik untuk ibu maupun bayinya. 

Beberapa risiko yang perlu Anda perhatikan, antara lain: 

Risiko Kesehatan Fisik
Jarak kehamilan yang terlalu dekat (kurang dari 6 bulan) sangat berisiko.Selain kondisi energi ibu yang terkuras selama proses persalinan sebelumnya, secara fisik alat reproduksi Ibu pun belum pulih secara sempurna.  

Risiko yang dihadapi ibu bila jaran kehamilan terlalu dekat, di antaranya ketuban pecah dini, lebih mudah mengalami demam pada saat persalinan, infeksi pasca persalinan, anemia defisiensi, keguguran, preeklampsia sampai meningkatnya mortalitas (kematian).

Tak hanya itu, risiko perinatal pun tinggi, yaitu keguguran, lahir mati, dan prematuritas. Risiko-risiko tersebut masih tetap dihadapi pada jarak kehamilan kurang dari 18-27 bulan. 

Khusus untuk perinatal dan bayi baru lahir, risiko yang dihadapi pada jarak kehamilan kurang dari 18 bulan adalah prematuritas, pertumbuhan janin terhambat, bayi dengan berat lahir rendah, bahkan sampai pada kematian janin.

Tidak berhenti sampai masa neonatal saja, risiko jarak kehamilan terlalu dekat juga berpengaruh pada bayi dan balita, berupa meningkatnya risiko kematian bayi dan balita serta kurang gizi pada balita. 

Risiko Kesehatan Mental
Selain risiko kesehatan fisik, risiko kesehatan mental Ibu pun bisa saja terjadi. Ibu yang memiliki jarak kehamilan terlalu dekat lebih rentan mengalami postpartum blues hingga depresi postpartum. Gangguan tersebut biasanya muncul sejak hari ketiga pascapersalinan dan pada beberapa orang, baru mengalami resolusi setelah 6 bulan pasca persalinan. 

Gejala depresi tersebut bisa berupa : mengalami kepanikan dan kecemasan, terus menerus merasa khawatir dengan kondisi kesehatannya, merasa bukan ibu yang baik, tidak dapat mengontrol emosi, dan lain sebagainya.

Sementara bagi si anak, bisa berisiko kecemburuan yang berlebihan, hingga kurangnya perhatian yang akan berpengaruh bagi perkembangan mentalnya kelak.

Risiko Seksio Sesarea
Bagi Ibu yang sebelumnya melakukan persalinan secara seksio sesarea, jarak kehamilan kurang dari 18 bulan berisiko dua sampai tiga kali lipat untuk mengalami robek rahim spontan jika mencoba untuk bersalin secara normal pada kehamilan berikutnya, dibandingkan dengan mereka yang jarak kehamilannya lebih dari 18-24 bulan. 

Batas Aman Jarak kehamilan
Lantas, berapa jarak aman untuk kehamilan berikutnya? WHO menyepakati 24 bulan sebagai jarak kehamilan yang aman. Selain dianggap paling aman, jangka waktu ini juga mendukung program pemberian ASI selama 24 bulan.

Jangan Terlau Jauh
Dari beberapa penelitian, ternyata didapatkan jarak kehamilan lebih dari 59 sampai 75 bulan (rata-rata > 5 sampai 6 tahun) dapat meningkatkan risiko kematian  pada ibu, preeklampsia, dan demam intrapartum. Risiko-risiko pada perinatal juga meningkat kembali jika angka jarak kehamilan lebih dari 71 bulan.

Risiko Ibu berusia di atas 35 Tahun
Yang paling dikhawatirkan adalah jika kehamilan Ibu diatas 35 tahun karena meningkatnya risiko memiliki janin dengan kelainan kromosom dan kecacatan. Hal itu disebabkan karena kualitas sel telur yang dihasilkan sudah menurun. Selain itu ibu juga rentan mengalami perdarahan pasca persalinan, karena kemampuan kontraksi otot-otot rahim Ibu pada usia tersebut sudah tidak sebaik otot-otot Ibu saat usianya 20 tahunan. 

Selain pada ibu dengan usia terlalu tua, risiko mortalitas dan morbiditas juga tinggi pada ibu dengan usia di bawah 20 tahun, karena belum siap sempurnanya organ-organ reproduksi. Sebab itu, usia kehamilan yang ideal dan paling aman adalah antara usia 20 sampai 35 tahun. 

Bagaimana jika telanjur Kebobolan (hamil dalam jarak dekat)? 
Jika ibu telanjur hamil dalam jarak dekat, sebaiknya periksakan kehamilan sejak dini dan teratur, sesuai dengan jadwal pemeriksaan kehamilan yang dianjurkan oleh tenaga kesehatan. Hal ini dilakukan untuk pencegahan dan deteksi dini jika ada risiko.

Tip Perencanaan Kehamilan
Beberapa hal yang perlu diperhatikan jika ingin merencanakan kehamilan, di antaranya: usia (calon) ibu, jarak kehamilan, kesiapan fisik, hingga asupan nutrisi seperti asam folat dan zat besi. 

Asupan gizi yang tepat juga dapat menghindari Ibu dari masalah kesehatan akibat berat badan yang kurang atau berlebih. Kesiapan mental serta pengetahuan tentang kehamilan dan persalinan itu sendiri, agar kehamilan dan persalinan yang akan dijalani berlangsung aman, serta Ibu dan bayi selalu dalam kondisi yang baik. 

Jika ada riwayat kelainan genetika pada keluarga atau anak pertama, dapat dilakukan beberapa pemeriksaan, termasuk pemeriksaan genetik. 

Gunakan alat kontrasepsi yang tepat dan paling sesuai dengan kondisi ibu dan pasangan, guna meminimalisir kebobolan hamil (hamil dalam jarak dekat).


Ditulis oleh: dr. Dian Indah Purnama, SpOG, dokter rekanan Makmal 

Anda punya pertanyaan seputar Hamil ?
Ask Doctor
Aturan Konsumsi Gula Saat Hamil Aturan Konsumsi Gula Saat Hamil Sperma atau air mani adalah sel reproduksi pada pria yang diproduksi oleh testis.Lalu bagaimana cara memperbanyak sperma yang benar menurut dokter. 6 Cara Memperbanyak Sperma