Profile
Health A-Z

Antibiotik, Awas Resistensi

Antibiotik, Awas Resistensi

Antibiotik, umumnya digunakan untuk pengobatan penyakit yang disebabkan oleh bakteri maupun kuman. Namun, konsumsi antibiotik yang tidak tepat, justru akan membuat seseorang resisten terhadap antibiotik.

Antibiotik banyak berperan dalam menyembuhkan infeksi bakteri, mencegah penyebaran penyakit dan meminimalisir komplikasi serius dari suatu penyakit. Meski menyimpan banyak manfaat, ketika antibiotik terlalu sering dikonsumsi atau dikonsumsi dalam jumlah dan waktu yang tidak tepat, menjadi penyebab utama bakteri resisten terhadap antibiotik.

Kekebalan ini  terjadi, karena bakteri lama-kelamaan mengalami perubahan yang membuatnya terlindungi dari kerja obat antibiotik, bahkan mampu menetralisirnya. Bakteri yang dapat bertahan hidup setelah diserang dengan antibiotik ini, kemudian akan melipatgandakan diri dan terus menguat terhadap “serangan” antibiotik. Beberapa bakteri, bahkan sanggup menyalurkan kekebalan ini ke bakteri lainnya, agar sama-sama bertahan hidup. Seberapa terpengaruhnya bakteri sehingga menjadi kebal dan seberapa cepatnya hal ini terjadi, ditentukan oleh cara penggunaan antibiotik.


Lalu, apa efeknya jika bakteri resisten terhadap antibiotik?
Penyakit yang disebabkan oleh bakter jadi lebih sulit disembuhkan, sehingga akan membutuhkan dana lebih mahal untuk proses menyembuhkannya. Bakteri yang resisten terhadap antibiotik juga bisa menyebabkan kerusakan organ tubuh, karena sulit disembuhkan. Tak hanya itu, resistensi antibiotik juga akan menyebabkan rantai penularan penyakit pada lingkungan sekitar.

Alasan tersebutlah yang menyebabkan pentingnya mengonsumsi antibiotik secara tepat, baik dari tujuan penggunaannya, jumlahnya, dan waktunya. Umumnya, antibiotik  akan diresepkan untuk lima hari dan harus dihabiskan. Antibiotik harus  diminum hingga habis sesuai resep dokter, meski kondisi Anda sudah membaik. Namun, tak jarang, ketika sudah tak lagi merasa sakit, konsumsi antibiotik berhenti sebelum waktunya. Kebiasaan tidak mengonsumsi antibiotik hingga tuntas inilah, yang nantinya dapat menyebabkan resistensi. Untuk mencegahnya, pastikan Anda tidak mengonsumsi antibiotik tanpa resep dokter dan selalu mengonsumsinya sesuai dengan dosis hingga habis. 

Begitupun jika antibiotik dikonsumsi secara berlebihan. Setiap sakit mengonsumsi antibiotik, dengan tujuan agar cepat sembuh. Padahal, tak semua penyakit dapat disembuhkan dengan antibiotik. Berbagai penyakit yang disebabkan oleh virus, seperti flu, demam, atau sakit tenggorokan akibat virus tak perlu mengonsumsi antibiotik. Karena, penyakit yang disebabkan oleh virus, umumnya adalah self limiting disease, yaitu dapat sembuh dengan sendirinya, hanya dengan mengonsumsi makanan sehat dan istirahat cukup.


Saat virus menjadi penyebab penyakit Anda dan diobati dengan antibiotik, maka antibiotik tetap akan menyerang bakteri dalam tubuh Anda, tanpa peduli apakah bakteri tersebut sebenarnya dibutuhkan tubuh atau tidak. Padahal, pada tubuh kita terdapat bakteri baik yang bermanfaat bagi tubuh. 

Untuk gaya hidup sehari-hari, biasakan rajin mencuci tangan, konsumsi makanan yang bersih dan menjaga kebersihan peralatan masak, maupun peralatan makan. Pastikan Anda dan seluruh keluarga mendapatkan vaksin, seperti vaksin difteri dan pertusis. Selalu waspadai gejala alergi, terutama alergi terhadapa antibiotik. (PA)

Ditinjau oleh: dr. Rahajeng A.P

Anda punya pertanyaan seputar Health A-Z ?
Ask Doctor
Sindrom syok keracunan bisa mengancam jiwa, gejalanya seperti bengkak, demam, ruam dan tidak enak badan. Kenali Gejala Sindrom Syok Keracunan yang Mengancam Jiwa Kurang tidur bisa mengakibatkan gangguan kesehatan. Berkemah bisa jadi solusi untuk mengatasi masalah tidur. Ingin Sembuh dari Insomnia? Berkemah Saja