Profile
Kanker Serviks

2 Langkah Mencegah Kanker Serviks

2 Langkah Mencegah Kanker Serviks

Kanker serviks bisa dicegah dengan deteksi dini dan vaksinasi kanker serviks

World Health Organization (WHO) menunjukkan sekitar 23.4% kasus kanker di Indonesia adalah berasal dari kanker kandungan.Kanker ini menyebabkan kematian pada 20.1% kasus. Kanker kandungan yang paling sering terjadi, adalah kanker serviks. Kekerapan kanker ini adalah sekitar 13% dari kasus kanker kandungan.
 
Serviks (leher rahim) merupakan bagian dari organ rahim. Rahim dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: atap (fundus), badan (korpus) dan leher rahim (serviks). Atap dan badan rahim terletak di dalam rongga perut, sedangkan leher rahim terletak di luar rongga perut. Leher rahim menonjol ke dalam vagina. Oleh karena itu, untuk melihat leher rahim, perlu dilakukan pemeriksaan dengan alat bantu untuk membuka saluran vagina, disebut spekulum.
 
Leher rahim yang normal akan terlihat berbentuk bulat, bewarna merah muda dan permukaannya licin. Kanker serviks umumnya terlihat sebagai suatu benjolan menyerupai kembang kol yang mudah berdarah.
 
Faktor Risiko, Gejala dan Tanda Kanker Serviks
Kanker serviks disebabkan oleh infeksi Human Papilloma Virus (HPV) onkogenik. Terdapat banyak tipe HPV onkogenik, namun yang paling sering menyebabkan kanker serviks adalah tipe 16, 18, 31 dan 45.
 
Risiko kanker serviks akan meningkat pada wanita yang mempunyai riwayat: berhubungan seksual pada usia muda (kurang dari usia 21 tahun), berganti-ganti pasangan seksual, infeksi menular seksual, merokok dan pengidap HIV.
 
Gejala dan tanda kanker serviks dapat berupa keputihan yang berbau dan bercampur darah, perdarahan pascasenggama, atau perdarahan menstruasi yang memanjang.
 
Tanda-tanda maupun kondisi lain yang dapat ditemukan, adalah: buang air kecil berdarah, buang air besar berdarah, pembengkakan tungkai yang dapat disertai nyeri, dan gagal ginjal. Tanda dan kondisi ini umumnya terjadi jika kanker serviks telah mencapai stadium III atau IV.
 
Mencegah Kanker Serviks 
Ada dua langkah yang perlu dilakukan untuk mencegah kanker serviks, yaitu: 
 
Deteksi dini
Dikarenakan perjalanan penyakit kanker serviks membutuhkan waktu yang lama (10 - 20 tahun), deteksi dini amat tepat dilakukan. Tujuan dari deteksi dini adalah menemukan penyakit pada keadaan prakanker. Saat ini di Indonesia deteksi dini dapat dilakukan pada pelayanan kesehatan tingkat pertama.
 
Deteksi dini yang dapat dilakukan pada pelayanan kesehatan tingkat pertama adalah Inspeksi Visual dengan Asam Asetat atau sering disebut IVA. Pemeriksaan ini hanya membutuhkan asam asetat (asam cuka) dengan konsentrasi 3 - 5% yang dioleskan di permukaan leher rahim. Karena pemeriksaannya cukup sederhana, pemeriksaan ini relatif lebih murah daripada pemeriksaan lainnya. Hasil positif ditemukan jika warna leher rahim berubah menjadi putih setelah pengolesan asam asetat.
 
Keuntungan lain dari pemeriksaan IVA adalah mudah, tidak perlu rawat inap, relatif tidak menyakitkan, dan hasil pemeriksaannya dapat diketahui cepat dan singkat. Sehingga, bila dicurigai positif, pasien dapat langsung dilakukan terapi atau dilanjutkan dengan pemeriksaan lainnya, seperti: kolposkopi.
 
Keterbatasan pemeriksaan IVA adalah angka positif-palsu yang cukup tinggi.Sehingga, beberapa keadaan bukan prakanker, seperti: infeksi leher rahim (servisitis), seringkali juga memberikan hasil yang positif, oleh karenanya sering dianggap sebagai keadaan prakanker.
 
Pemeriksaan deteksi dini lainnya adalah Pap smear. Pemeriksaan Pap smear dilakukan dengan mengambil sejumlah sel yang terlepas dari leher rahim kemudian diperiksa dengan bantuan mikroskop untuk mendeteksi sel yang berpotensi menjadi kanker. Keuntungan pemeriksaan ini adalah  mudah, tidak perlu rawat inap, relatif tidak menyakitkan, cepat dan memiliki spesifisitas yang cukup tinggi. Keterbatasannya adalah hasil pemeriksaannya tidak dapat selesai dengan cepat seperti IVA, perlu waktu 1-2 minggu. Pemeriksaan ini juga relatif lebih mahal dibandingkan pemeriksaan IVA.
 
Hasil pemeriksaan Pap smear dapat dijadikan acuan untuk terapi atau dilakukan pemeriksaan lain yang dapat membantu meningkatkan ketepatandeteksi, seperti: pemeriksaan DNA HPV atau kolposkopi.
 
Vaksinasi
Kanker serviks dapat dicegah dengan menghindari faktor-faktor risiko dan vaksinasi HPV. Vaksin HPV menggunakan materi protein yang menyerupai selubung virus HPV tanpa materi infeksiusnya. Selubung virus HPV yang kosong ini (tanpa materi infeksius) dapat menstimulasi sistem kekebalan tubuh manusia untuk selanjutnya dapat melawan virus HPV yang asli (dengan materi infeksius).
 
Terdapat dua jenis vaksin yang beredar di Indonesia, yaitu: vaksin kuadrivalen dan vaksin bivalen. Vaksin kuadrivalen melindungi dari infeksi HPV tipe-6, 11, 16 dan 18; sedangkan vaksin bivalen melindungi dari infeksi HPV tipe-16 dan 18 saja. Keduanya sama efektif dalam melindungi terhadap infeksi virus HPV onkogenik. Namun, pada vaksin kuadrivalen, vaksin dapat juga melindungi dari infeksi HPV tipe-6 dan 11. Kedua virus HPV ini bukan merupakan virus HPV onkogenik, tetapi kedua virus ini dapat menyebabkan penyakit kutil pada kelamin (kondiloma akuminatum). 
 
WHO dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyarankan vaksinasi HPV diberikan pada wanita mulai usia 10tahun. Vaksin cukup diberikan dua kali dengan jarak 6-12 bulan jika diimunisasi pada usia 10 - 13 tahun. Apabila diimunisasi di atas usia 13 tahun, vaksin diberikan tiga kali dengan jarak satu atau dua bulan setelah penyuntikkan pertama dan selanjutnya enam bulan. Tidak terdapat perbedaan respons kekebalan tubuh antara pemberian dua kali dengan tiga kali. Keduanya sama efektif.
 
 
* Ditulis oleh dr. Yuri Feharsal, SpOG, narasumber rekanan Makmal Diagnostik
 
 
Anda punya pertanyaan seputar Kanker Serviks ?
Ask Doctor
 p>For most of you who do not know what it is multiple myeloma, it is one type of cancer that… Anticipating Multiple Myeloma  p>For most of you who do not know what it is multiple myeloma, it is one type of cancer that… Anticipating Multiple Myeloma